1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Risda

 



RISDA PUSPITA, S.Pd.

CGP ANGKATAN 7 KABUPATEN PACITAN

****

FASILITATOR

MIJIATUN SRI HARTYATNI

****

PENGAJAR PRAKTIK

NANANG SETIAWAN


KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4

Tujuan Pembelajaran Khusus:

  • CGP memahami keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3.
  • CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.
1. 

Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak. 




Budaya positif adalah berupa pembiasaan-pembiasaan yang posisitf yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah terutama murid untuk menciptakan karakter yang mengarah pada profil pelajar pancasila. Untuk mewujudkan budaya-budaya tersebut peran guru sangat dibutuhkan. Sesuai dengan salah satu semboyan Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha bahwa guru harus mampu menjadi teladan bagi murid. Dalam menciptakan budaya positif di sekolah guru harus bisa menjadi teladan terlebih dahulu. Murid akan mencontoh sikap dan perilaku kita. Dengan adanya contoh nyata, mereka akan mudah menerapkannya dalam pembiasaan sehari-hari tanpa paksaan atau pun hukuman terlebih dahulu.

Peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah diawali dengan membuat program pembiasaan sekolah dan keyakinan kelas yang wajib dilaksanakan oleh setiap murid. Sesuai dengan filosofi Ki Hajar dewantara bahwa dalam mendidik tidak hanya memberikan materi-materi yang terpaut dengan kurikulum saja. Namun, mereka harus dibekali dengan bimbingan, arahan, untuk memaksimalkan potensi mereka dan budi pekerti yang baik agar mereka menjadi manusia yang selamat dan dapat diterima di masyarakat. 

Dalam penerapan budaya positif, tidak cukup mampu tanpa adanya bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kepemimpinan murid yang disiplin diri harus ada kolaborasi yang baik antara warga sekolah antara lain Kepala Sekolah, rekan guru dan karyawan, komite, bahkan wali murid. Semua program yang berkaitan dengan sekolah hendaknya dikomunikasikan dengan baik. Kolaborasi yang merupakan nilai guru penggerak  sangat penting untuk menyamakan persepsi yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah visi sekolah. 


Dalam penerapan budaya positif, berdasarkan pengalaman di sekolah pasti ada murid yang melanggarnya dengan atau tanpa sengaja. Dalam kasus penanganan saya berusaha menempatkan diri saya pada kontrol menejer yang tidak langsung menghakimi murid, tapi menyelesaikan permasalahan berdasarkan segitiga restitusi. Dengan demikian akan ditemukan sebuah  masalah dan solusi tanpa menimbulkan rasa sakit atau dendam pada anak.



2.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?


Pada intinya:

Disiplin positif adalah sebuah konsep mendidik anak memiliki kebiasaan positif tanpa ada ancaman, paksaan, atau ketidaknyamanan sehingga timbul kesadaran dari dalam hati bukan karena ketakutan. Tujuannya adalah menciptakan disiplin diri pada anak yang menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya tanpa terpengaruh adanya hukuman ataupun penghargaan. Sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik bukan motivasi ekstrinsik. 


Teori Kontrol
adalah  
 disiplin yang berpusat pada murid, yang dikembangkan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi. Lima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Posisi yang diharapkan yang dilakukan oleh guru adalah sebagai manajer di mana posisi ini menyelesaikan masalah dengan matang untuk mencari solusi tanpa ada ketakutan atau rasa sakit hati dalam diri anak.

Teori motivasi dicetuskan oleh Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia

* Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Tingkatan ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Motivasi ini bersifat eksternal.

Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Motivasi ini bersifat eksternal.

Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Kebutuhan Dasar Manusia  yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.


Segitiga Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.

  • Menstabilkan identitas 
  • Validasi tindakan yang salah 
  • Menanyakan Keyakinan 

Hal yang menarik dan diluar dugaan bagi saya adalah ketika saya menerapkan keyakinan kelas dan ada salah satu murid yang melanggarnya. Dalam penanganannya sering kali saya memposisikan diri saya sebagai teman. Saya berpikir dengan menjadi teman, berkata akrab, dekat akan meluluhkan hati mereka. Namun, hal itu tidak sesuai dengan dugaan saya. Dengan memposisikan menjadi teman, murid akan meremehkan dan hilang rasa hormat. Dari sini, saya harus menjelaskan pada mereka bahwa ada adab-adab tertentu yang harus mereka lakukan ketika berhadapan dengan guru. Jangan sampai kita kehilangan wibaya di hadapan mereka.

3.
Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan budaya positif adalah disiplin positif, keyakinan kelas, pemenuhan kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Budaya disiplin yang lebih fokus ke disiplin diri akan tercipta jika guru mampu menjadi teladan bagi muridnya. Murid yang melanggar peraturan bukan semata-mata karena kesalahan mereka. Namun, mereka hanya menginginkan sesuatu untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar mereka. Tidka perlu menghukum dan menghakimi mereka. Kita selesaikan masalah dengan menerapkan konsep segitiga resolusi yang memposisikan diri kita sebagai manajer.


4. 
Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Ketika saya mulai menerapkan budaya posisitif mulai dari membuat keyakinan kelas, murid-murid tentu bertanya-tanya untuk apa dan fungsinya bagaimana. Setelah saya jelaskan bahwa keyakinan kelas adalah salah satu upaya agar mereka berperilaku disiplin diri maka mereka mulai menjalanakannya. Dalam penanganan kasus jika ada salah satu dari mereka ada yang melanggar, saya mulai memposisikan diri sebagai manajer bukan sebagai teman lagi. Dengan begitu masalah dapat terselesaikan dengan baik dan mereka akan menghargai keyakinan kelas dengan kesadaran. Bukan karena faktor eksternal.

5.
Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Saya merasa senang dan lega karena bisa menerapkan budaya posistif di sekolah terutama di kelas saya. Budaya positif membentuk disiplin diri para murid. Mereka akan berhati-hati dengan perilakunya setelah ada keyakinan kelas yang kami sepakati. Dan yang paling berartiadalah ketika saya mempelajari bagaimana menerapkan segitiga restitusi dalam menyelesaikan sebuah kasus. Masalah selasai dengan solusi dan perasaan yang baik.

6. 
Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
Adanya keyakinan kelas sejak lama menurut saya sudah baik. Namun, ada yang perlu
diperbaiki yaitu cara memposisikan diri sebagai teman harus saya ubah menjadi menajer ketika menyelesaikan sebuah kasus. Ketika ada murid yang bersalah tidak langsung menghukum mereka, tapi mencari sebuah permasalahan dan menguatkan mereka sehingga akan terjadi komunikasi yang baik tanpa menyudutkan murid.
Keyakinan kelas bukanlah peraturan yang mengekang murid, tapi bagaimana sikap kita dan keteladanan kita yang menyebabkan mereka menaatinya tanpa paksaan, tanpa mengharapkan suatu imbalan. Mereka melakukan perbuatan tanpa melanggar keyakinan kelas berdasarkan kesadaran diri mereka masing-masing.

7.
Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Posisi kontrol sebagai teman. Saya beranggapan bahwa memposisikan diri sebagai teman akan membuat mereka nyaman dan menyadari kesalahan mereka tanpa mengulanginya lagi. Namun, kenyataannya mereka sering mengulanginya karena rasa hormat sedikit hilang dan timbul ketergantungan dan ketidakmandirian dalam diri mereka. Mereka juga terkesan meremahkan.
Setelah mempelajari modul ini saya berusaha menerapkan segitiga restitusi dan memposisikan diri saya sebagai manajer. Ternyata cara ini lebih efektif. Murid tetap hormat dan tidak ada kesan dendam terhadap teman pemicu masalah baginya. Perasaan saya lega karena bisa menempatkan saya pada posisi yang benar dalam menyelesaikan sebauah kasus. Perbedaannya, murid lebih hormat kepada kita, masalah selesai dengan baik, tidak ada permusuhan antarteman.

8.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
Pernah. Yang saya praktikkan adalah tahap menstabilkan identitas dan validasi tindakan yang salah. Selama ini saya belum menanyakan keyakinan kelas. 
Dalam praktiknya, saya baru menggali penyebab permasalahan, apa yang murid lakukan, dan apa yang dilakukan selanjutnya.

9.
Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?


Ada. Untuk memaksimalkan budaya positif mungkin kita perlu mempelajari:
* Pembiasaan yang mengarah pada pembentukan karakter profil pelajar pancasila
* Adab-adab antara guru dan murid.
* Cara mengontrol emosi.
* Kolaborasi yang baik antara Kepala Sekolah, guru, murid, dan seluruh warga sekolah untuk menciptakan atau mensukseskan budaya positif di sekolah.



TERIMA KASIH



Tabel Rancangan Tindakan Aksi Nyata

Judul Modul          : Modul 1.4 Budaya Positif “Menjadi pribadi yang Disiplin Melalui Pembiasaan Positif”

Nama Peserta      : Risda Puspita





 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1